Bacaan Sujud Subhanakallahumma Rabbana wa bihamdika Allahummaghfirli
Bacaan Sujud Subhanakallahumma Rabbana wa bihamdika Allahummaghfirli ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Doa dan Dzikir yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 10 Dzulqa’dah 1447 H / 27 April 2026 M.
Kajian Tentang Bacaan Sujud Subhanakallahumma Rabbana wa bihamdika Allahummaghfirli
Pada bagian ketiga ini, terdapat bacaan lain yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang berbunyi:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي
“Maha Suci Engkau, ya Allah, Rabb kami, dan dengan memuji-Mu, ya Allah, ampunilah aku.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bacaan ini memiliki keistimewaan karena dapat digunakan baik saat rukuk maupun sujud. Hal ini menjadi solusi bagi orang yang sering kali merasa ragu atau tertukar dalam melafalkan bacaan antara gerakan rukuk dan sujud. Dengan menggunakan bacaan ini, kekeliruan antara Subhana rabbial azhim untuk rukuk dan Subhana rabbial a’la untuk sujud dapat dihindari.
Dalam melafalkan bacaan ini, terdapat hal yang perlu diperhatikan agar sesuai dengan kaidah tajwid. Pada kalimat Subhanakallahumma, akhiran ma dibaca pendek namun dengan penekanan tasydid pada huruf mim. Sering kali terjadi kesalahan di mana bagian tersebut dibaca panjang karena mengikuti kebiasaan lisan, padahal yang benar adalah dibaca pendek.
Penting untuk memastikan pelafalan Subhanakallahumma rabbana wabihamdika Allahummagfirli dilakukan secara tepat agar makna dan keutamaan doa tersebut tetap terjaga.
Landasan Dalil dari Al-Qur’an dan Hadits
Landasan utama dari bacaan ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Hadits tersebut bersumber dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha yang menceritakan kebiasaan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Beliau menuturkan:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ فِي رُكُوعِهِ وَسُجُودِهِ: «سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي» يَتَأَوَّلُ الْقُرْآن
“Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sering membaca dalam rukuk dan sujudnya: ‘Subhanakallahumma rabbana wabihamdika Allahummagfirli’, dalam rangka mengamalkan (perintah) Al-Qur’an.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Keterangan Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa beliau “mengamalkan perintah Al-Qur’an” merujuk pada perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang terdapat dalam Al-Qur’an surah An-Nasr. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا
“Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima Tobat.” (QS. An-Nasr [110]: 3)
Ayat tersebut memerintahkan tiga hal utama: fasabbih (bertasbih), bihamdi rabbika (bertahmid), dan wastaghfirhu (beristigfar). Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam segera mengamalkan perintah ini dalam ruku dan sujud beliau dengan membaca:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي
“Maha Suci Engkau ya Allah, wahai Tuhan kami (Tasbih), dan segala puji untuk-Mu ya Allah (Tahmid). Ya Allah, ampunilah aku (Istigfar).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Konteks Sejarah: Fathu Makkah
Surah An-Nasr berkaitan erat dengan peristiwa besar dalam sejarah Islam, yaitu Fathu Makkah atau penaklukan kota Makkah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ
“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.” (QS. An-Nasr [110]: 1)
Dahulu, kota Makkah dikuasai oleh orang-orang musyrikin Quraisy yang menindas kaum muslimin, sehingga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam harus berhijrah ke Madinah. Pada tahun ke-8 Hijriah, beliau bersama kaum muslimin kembali ke Makkah untuk membersihkan kota tersebut dari kesyirikan dan kekufuran. Peristiwa inilah yang disebut sebagai kemenangan atau penaklukan kota Makkah.
Kemenangan besar tersebut diikuti dengan fenomena umat manusia yang masuk ke dalam agama Islam secara massal. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا
“Dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah.” (QS. An-Nasr [110]: 2)
Kondisi ini sangat berbeda dengan masa awal dakwah di Makkah, saat jumlah orang yang masuk Islam masih sangat sedikit dan dapat dihitung dengan jari karena posisi kaum muslimin yang lemah dan penuh tekanan. Namun, setelah peristiwa Fathu Makkah, kaum muslimin berada pada posisi yang kuat. Orang-orang yang sebelumnya merasa takut untuk memeluk Islam akhirnya merasa aman dan memutuskan untuk masuk Islam secara berbondong-bondong. Setelah melihat perkembangan jumlah kaum muslimin yang semakin besar, Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian memberikan perintah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk menutup masa tugas beliau dengan tasbih, tahmid, dan istigfar, melalui firman-Nya:
فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ
“Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya.” (QS. An-Nasr [110]: 3)
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam segera mempraktikkan perintah tersebut tanpa menunda sedikit pun. Beliau membaca tasbih, tahmid, dan istigfar pada setiap rukuk dan sujud. Hal ini memberikan pelajaran berharga mengenai betapa bersegeranya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam menjalankan ketaatan. Beliau mengajarkan bahwa Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, melainkan panduan hidup untuk diamalkan.
Al-Qur’an sebagai Panduan Hidup, Bukan Sekadar Hiasan
Al-Qur’an diturunkan untuk dibaca sekaligus dikerjakan. Sayangnya, saat ini banyak umat Islam yang hanya berhenti pada tahap membaca tanpa menjadikannya sebagai pedoman tindakan. Seharusnya, ketika seseorang membaca perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an, ia harus segera melaksanakannya. Demikian pula saat menemukan larangan, ia harus segera meninggalkannya.
Sikap seorang mukmin sejati tidak mencari-cari alasan untuk menunda ketaatan, terutama dalam perkara tauhid yang merupakan pondasi Islam, atau menjauhi syirik yang merupakan dosa paling besar. Tidak dibenarkan membela tradisi nenek moyang atau rasa takut dikucilkan masyarakat jika hal tersebut nyata dilarang dalam agama.
Seseorang harus segera mengerjakan perintah dan meninggalkan larangan karena tidak ada yang mengetahui kapan malaikat maut akan datang menjemput. Sisa umur manusia merupakan rahasia Allah ‘Azza wa Jalla. Kematian tidak memandang usia, baik yang sudah lanjut usia maupun yang masih muda, bahkan bayi yang baru lahir pun bisa dipanggil oleh-Nya. Oleh karena itu, ketika ada perintah untuk bersedekah, berpuasa, atau mendirikan salat, perintah tersebut tidak boleh ditunda-tunda. Begitu seruan azan berkumandang, seorang muslim harus segera menunaikan salat sebagai bentuk kepatuhan hamba kepada Rabb-nya.
Seseorang hendaknya tidak membiasakan diri untuk menunda-nunda kebaikan karena tidak ada yang mengetahui sisa umur yang dimiliki. Hal ini menjadi bahan evaluasi mengenai hubungan seorang hamba dengan Al-Qur’an, yaitu tentang bagaimana bersegera dalam beramal. Selain itu, harus terdapat keselarasan antara ucapan dan perbuatan. Apa yang dibaca melalui lisan berupa ayat-ayat Al-Qur’an harus selaras dengan praktik dalam kehidupan sehari-hari.
Di dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan untuk berbakti kepada orang tua:
وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
“Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua.” (QS. Al-Baqarah [2]: 83)
Keseharian seorang muslim seharusnya mencerminkan ayat tersebut. Seseorang sering kali berbicara kepada atasan, pejabat, atau tokoh yang dihormati dengan pemilihan kata yang sangat hati-hati dan sopan agar tidak menyinggung perasaan. Namun, dalam kenyataannya, banyak anak yang berbicara kepada orang tua secara asal tanpa memikirkan kesantunan kalimatnya. Seharusnya, kepada orang tualah kata-kata terbaik dipersembahkan, melebihi kesantunan kepada manusia lainnya.
Penerapan Kejujuran dalam Kehidupan
Antara ayat yang dibaca dengan praktik keseharian haruslah sejalan. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan hamba-Nya untuk senantiasa berkata jujur dan benar:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (QS. Al-Ahzab [33]: 70)
Penerapan kejujuran ini harus tercermin bahkan dalam lingkup terkecil, seperti hubungan antara suami dan istri. Setiap muslim hendaknya melatih kejujuran dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam hal-hal kecil. Seseorang yang pergi memancing namun beralasan hendak pergi mengaji, meskipun ia mendengarkan pengajian sambil memancing, tetap harus menempatkan kejujuran sebagai prioritas. Kegiatan utama tetaplah memancing, sedangkan pengajian hanyalah selingan. Kejujuran dalam ucapan menunjukkan keselarasan antara ayat Al-Qur’an yang dibaca dengan tindakan nyata.
Hal yang sama berlaku dalam rumah tangga, seperti saat seorang istri menggunakan uang belanja untuk keperluan non primer namun beralasan untuk sedekah. Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kejujuran dalam setiap keadaan. Keselarasan antara lisan dan perbuatan adalah kunci iman yang benar.
Ketaatan Menutup Aurat dan Larangan Riba
Di dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kaum wanita untuk menutup aurat dengan sempurna. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ
“Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka’.” (QS. Al-Ahzab [33]: 59)
Sering kali saat membaca ayat ini, muncul berbagai alasan seperti rasa gerah atau anggapan tidak modis yang membuat praktik sehari-hari tidak sinkron dengan tuntunan Al-Qur’an. Begitu pula dalam masalah rezeki, banyak orang merasa khawatir untuk meninggalkan riba karena takut bisnisnya bangkrut. Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
“Dan tinggalkanlah sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Baqarah [2]: 278)
Realitas menunjukkan bahwa banyak bisnis yang hancur justru karena terjerat riba. Beban bunga yang besar sering kali merusak ketenangan hati dan mengacaukan manajemen usaha hingga berujung pada penyitaan aset. Seseorang tidak perlu menunggu kehancuran untuk mengambil pelajaran. Keyakinan penuh harus ditanamkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Zat yang memberikan rezeki.
Al-Qur’an sebagai Panduan: Baca, Paham, dan Amal
Segala perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala harus segera dikerjakan dan larangan-Nya harus segera ditinggalkan, sebagaimana yang dipraktikkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Hal ini bertujuan agar Al-Qur’an benar-benar menjadi panduan hidup, bukan sekadar bacaan lisan.
Proses menjadikan Al-Qur’an sebagai panduan harus melalui tahapan yang benar, yaitu dibaca, dipahami, baru kemudian diamalkan. Seseorang tidak mungkin mengamalkan Al-Qur’an dengan benar tanpa pemahaman yang tepat. Oleh karena itu, penting bagi setiap muslim untuk berguru dan belajar dibawah bimbingan ahli ilmu agar terhindar dari salah paham.
Download mp3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Mari turut membagikan link download kajian “Bacaan Sujud Subhanakallahumma Rabbana wa bihamdika Allahummaghfirli” ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com
Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :
Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56197-bacaan-sujud-subhanakallahumma-rabbana-wa-bihamdika-allahummaghfirli/